english ..

Ini ada teaser dari BC (Jakarta) terkait bahasa Inggris dan knowledge economy. Menurut q penggunaan bahasa asing (bilingual) untuk keperluan sehari2 di negeri ini dapat dikatakan “moderate”, umum dipakai tapi tidak merata (dalam arti perluasan penggunaan nya).

” Kami berpendapat bahwa penguasaan bahasa Inggris yang baik ikut berperan serta dalam memperkuat ekonomi Indonesia. Apakah Anda setuju? Bagaimana menurut Anda perkembangan dari pengajaran dan penggunaan Bahasa Inggris di Indonesia saat ini? Sudah baik? atau masih dirasa kurang di banyak sisi? ” (BC)

Jujur hanya 1/3 dari keseluruhan mereka yang mendapat kesempatan mengenyam pendidikan dasar dan pelatihan (termasuk tes basis TOEFL, TOEIC dan sejenisnya) yang bisa menggunaan bahasa asing (dalam hal ini bahasa Inggris) dalam kegiatan mereka. Jelas penggunaan bahasa asing dianggap perlu dalam banyak hal termasuk korespondensi, komunikasi bisnis atau sekedar media informasi (iklan, poster, dll)

Yang umum q gunakan kalo dalam menulis artikel, opini di blog, korespondensi dengan rekan dan teman2 (yang nyambung) via email, ya pernah ada saat q pernah sms-an dengan teman dalam bahasa Inggris, walau awalnya kami merasa geli sendiri dengan format sms dengan bahasa Inggris, koq kesannya “lain” dari normal, tapi setelah terbiasa yah lumayan juga. Walaupun dalam keseharian akhirnya balik lagi ke “mode-on” alias bahasa singkat sms Indonesia.

Jadi, apa kaitanya dengan “knowledge economy“. Ya, katakanlah begini, pengetahuan itu luas seperti dunia “maya” yang kita kenal ini. Pengetahuan pun kini bisa diakses dari manapun, kapanpun, tanpa ada batasan wilayah, yurisdiksi. Dan banyak dari pengetahuan terkini (walaupun tidak semua) disajikan dalam bahasa Inggris. Dimana kita perlu pelajari materinya, perlu penguasaan ilmu yang ada didalamnya, yang suatu saat bahkan mungkin saat ini bermanfat untuk menggerakkan ide, kreatifitas dalam bekerja dan beraktifitas.

Practically, masyarakat kita sudah awam dengan penggunaan bahasa Inggris (liat aja sektor pariwisata), cuma ya kembali ke masalah pemerataan pengajaran penggunaan bahasa inggris ini (di beberapa daerah justru bahasa daerah lebih menonjol dari bahasa Indonesia sendiri), mencari “partner” yang bisa diajak dialog dalam bahasa ini, dan sejenisnya. Menurut q ini penting dari sekedar teori dan les, dimana secara riil kita diajak dan melatih diri untuk komunikasi verbal langsung, dan sekaligus melakukan penyempurnaan atas grammar dan verb yang digunakan.