2017 ..

Tahun 2017 pertanda lembaran hidup kami bertambah, dengan bayi mungil dan istri yang setia menemani, perjuangan seberat apapun terasa ringan. Saat pulang berkumpul dan ibadah bersama, tak terasa 1 tahun berlalu, barokah yang tak ada habisnya. Alhamdulillah.

Jadi akhir tahun 2016 lalu, kita dilema antara ingin menghabiskan waktu dengan lakukan perjalanan darat 2 jam ke arah timur atau perjalanan udara 1,5 jam ke arah barat. Biarlah Allah memberi petunjuk kemana baiknya kita sekeluarga berlibur akhir tahun. Selain kami ingin memberi jeda istirahat, agar si mbak bisa berkumpul dengan anak dan keluarga nya di kampung, kami berharap dia betah dan balik ke #jakarta lagi.

Perjalanan ke timur melalui tol Cipularang mengalami kendala perbaikan, yang hampir kerap terjadi saat musim penghujan, permukaan tanah di lereng bukit yang dilalui nya longsor, atau  menurun. Berdampak pada pergeseran permukaan jalan tol itu sendiri. Perbaikan bisa memakan hampir 3 bulan dan satu-satu nya transportasi bebas hambatan menggunakan kereta.

Sempat kepikir mau jalan naik kereta aja, cuma gak kebayang anak kami bisa betah di kereta selama 2 jam, mungkin. Dan teringat orang tua ku, Atuk dan Oma dari anak kami ini sudah lama tidak bersua sejak dia lahir 4 bulan lalu. Kami kerap video call dan mengirimkan foto nya, tapi rasanya lebih baik mereka bertemu langsung cucu mereka. So kami beli tiket untuk perjalanan udara dadakan seminggu jelang akhir tahun kemaren. Woow, rebutan, dengan harga kaget mahilllll. Subhanallah, moga diganti dengan rejeki lain oleh Allah. Amiin. Tidak seberapa, anggap balasan terima kasih ku dengan mengantar cucu mereka ke pangkuan mereka sejenak di tahun baru ini.


Perjalanan ini lumayan, kami sudah siapkan semua perlengkapan termasuk earmuff dan pelindung pendengaran nya sebelum take ofd dan landing. Dia sangat excited, campur letih dan ngantuk. Sempat menangis sejadi jadinya menjelang landing di Pekanbaru, dan ku gendong dan elus-elus dada nya agar tenang. Pengalaman yang aneh buat pendengaran bayi kami, dengan tekanan udara yang masih aja lolos kerasa di telinga nya.

Orangtua ku sangat senang, bisa melihat menantu kesayangan dan cucu kebanggaan mereka. Kami hanya sempat 4 hari disana, diselingi bayi kami demam tinggi 38,2 Celsius karena perubahan cuaca dan tubuh yang beradapatasi, sempat kita larikan ke IGD RSIA Zainab Pekanbaru, namun Alhamdulillah kata dokter nya dia baik-baik saja, butuh istirahat dan diresepkan obat penurun panas.

Hari berikutnya kami agak batasi perjalanan dalam kota, tarkut bayi kami letih dan penerbangan kembali ke Jakarta lusa akan membuat dia letih juga. Sampai hari kembali alhamdulillah bayi kami sehat wal afiat. Barakallah.

Perjalanan singkat namun bertahap mengajarkan anak kami, agar dia ingat selalu, dia juga punya kakek nenek  (orangtua ku) di Pekanbaru, selain yang ia kerap temui di Jakarta (orangtua istri). Dan melatih diri nya untuk kuat, dan tetap sehat ya nak. Dari ayah dan ibu mu.