kritisi ..

Sehari yang lalu saya membaca tulisan ringkas soal staf Presiden #Rafly yang mengundurkan diri baru-baru ini soal independensi beliau untuk kritis dalam posisi internal pejabat negara, dan kebebasan jam kerja sebagai seorang pembantu Presiden.

Ini agak menggelitik, bila dibanding kan perilaku teman saya #Arief yang satu sekolah di SMA sewaktu masih di Riau dan saat ini PNS di salah satu Kementerian. Dia juga baru-baru ini kritisi terbuka di media publik, bahkan berkirim surat langsung ke Menteri terkait kebijakan Kementerian PAN, namun tetap menjaga norma serta independensi di saat bersamaan sebagai PNS.

Untuk kritis saya rasa mengundurkan diri dengan 2 alasan nyeleneh di atas agak menggelikan, bila takut di #bully karena itu dan jadi mundur ya berarti belum siap tempur dengan segala konsekuensi nya. Jika pemimpin nya adil dan amanah, sekeras apa pun kritik yang disampaikan justru menjadi masukan dan saran membangun untuk memperbaiki, bila yang di kritisi hal baik, pemimpin yang benar akan ber komitmen jadikan itu pengawasan berkelanjutan.

Dan soal jam kerja, selagi bekerja untuk institusi dan kita bukan kepala nya, ikuti aturan. Tidak ingin diperlakukan eksklusif, tapi ingin berbeda sendiri ya agak susah ya, kecuali anda menggaji diri sendiri di institusi itu. Bila pengalaman dianggap mumpuni, dan ingin mengunakan jam kerja standar untuk pekerjaan lain, lakukan di luar jam tersebut, atau kalau manajemen prioritas dan waktu bagus, jalankan dua-dua nya barengan. Hanya ide sih!