celoteh ..

Finansial

Inflasi bulan Desember 2008 adalah negatif 0,04% m.o.m (deflasi) dan 11,06% y.o.y. Penurunan ini seiring permintaan atas barang2 mid-up yang melemah. Ditambah peluang BI menurunkan SBI agar Bank kembali mengucurkan kredit pinjaman ke sektor UKM. Jadi apakah Bank komersil akan menurunkan suku bunga mereka? Karena misalnya gap antara SBI dan suku bunga deposito nanti (kalo SBI memang turun) lumayan menggiurkan untuk menambah kocek mereka.

Turun gak yah?

Logikanya sih kalo memang SBI bisa turun, nilai obligasi misalnya baik itu dalam bentuk surat utang, RD pendapatan tetap dan ORI akan mengalami peningkatan value. I really hope so. Lagian q rasa BI juga gak mau lama2 tahan rate mereka setinggi sekarang, kebayang aja berapa bunga yang harus BI gelontorkan untuk dana simpanan daerah yang prefer nyimpen di SBI (seharusnya daerah memanfaatkan dana tersebut untuk revitalisasi infrastuktur mereka). Heran ada daerah yang nyimpen “banyak” di SBI.

Daerah mana itu hayo?

Ekonomi

Oo, cukup menggelikan sih melihat pemerintah 3x ” mau .. mau .. mau ” menurunkan harga BBM konsumsi umum (bukan mid-up) ke kisaran Rp. 4,500 untuk premium. Ada beberapa pihak yang menyambut gembira dengan turunnya tarif ini. Tapi apakah mungkin pedagang sembako, angkutan menurunkan harga/tarif mereka?

Mungkin q pikir belum lah mengingat saat demand tinggi, inflasi meroket tanpa perlu ditunggu dan ini jelas berlawanan dengan fakta dilapangan saat harga BBM untuk transportasi turun, penurunan demand yang berdampak deflasi tidak akan sontak direspon pengusaha-penjual dengan menurunkan harga/tarif. Kenapa? Logikanya sih kalo masih bisa dapet marjin atas selisih biaya dan harga penawaran dan peluang realisasi untung, untuk apa mengurangi harga? Benar kan.

Oportunis

Oo, yang ini agak beda dikit ceritanya. Pernah q post untuk status di micro-blogging ke FB ataupun Twitter, ” .. annoyed dgn profil caleg yg mewabah di FB.” Seorang adek kelas pernah bilang juga ” .. annoyed dgn umbul2, bendera oportunis yang membual janji”.

Ini gak jauh beda dengan cara pandang q melihat bagaimana mark* dengan objektifitas kejar target klien, mereka akan membual untuk mencapai target terserah apakah target yg mereka akuisisi itu layak atau tidak. Jadi salah siapa? Supervisor/ atasan mereka atau orang di lapangan tersebut. Tidak kah mereka diajarkan credit scoring utk profil klien dulu (untuk yg urusan CC).

Kenapa saat  q melihat mereka, baik politisi, mark* membual seperti itu cukup annoying. Kenapa mereka tidak membual hal yang logis dan tidak berlebih2an. Well, wait they can’t .. mereka gak bisa donk, berarti mereka harus jujur dan obyektif dalam penyampaian informasi .. which in fact belum tentu bikin orang tertarik. Dilematis memang !!

Aneh ya dari sekelumit kecil hal diatas, celoteh q agak melebar dikit dari biasanya. Kalo ada yang mau diralat tolong yah .. life is a matter of choice, differentiate dan perspektif. Mau jadi follower seumur hidup atau jadi inisiator bagi diri dan lingkungan kita. Sori guys atas celoteh ringkas diatas. Kalo ada yang membingungkan tanya saja (mogaan bisa dijawab). Hehe

😉