fat cats ..

This writing are meant as a supplement to my previous info about pricing in reference basket (ORB), and also my other related economy tagged articles. The first quarter (Q1) of 2008 for me seem blunt in any aspect, especially on economy as in the surface it seem affect fewer than predicted with Indonesia progress.

Seperti yang kita tahu semua, kita selalu bertanya dimana nilai tambah bagi ekonomi negara dengan menjamurnya perolehan pendapatan perusahaan baik itu swasta maupun BUMN, yang diselingi dengan peningkatan perolehan gaji board of director perusahaan. Bahkan disaat harga crude yang tinggi saat ini, perusahaan eksplorasi tampak enggan (baik dengan alasan proses, waktu, batasan dan aturan pemerintah) meningkatkan kapasitas produksi, toh dengan kapasitas yang ada sekarang mereka sudah memiliki pendapatan “plus”. Selain stok yang “memang” mencukupi, jangan heran bahkan OPEC mengesampingkan ide peningkatan produksi.

Di AS biasanya mereka menyebut orang2 ini dengan sebutan “fat cats” yang terus mendulang perolehan pendapatan signifikan, sejak tahun 90an “fat cats” ini menyumbang banyak bagi ekonomi AS, namun untuk beberapa tahun terakhir mereka yg “wealthy” cenderung membawa ekonomi AS dan perusahaan jatuh bangun, ambil contoh krisis kredit mortgage di AS yang menyeret Bear Stern kolaps, dan tertolong oleh penawaran JP Morgan untuk $2 per lembar saham mereka, yang kini telah kembali naik sekitar $30 per lembar. Apakah bersikap transparan seperti direksi Aflac dengan “Say on Pay” cukup memberi aura positif? Bisa jadi.

Ya begitulah, 2 contoh diatas menunjukkan bahwa terkadang selurus apa pun hidup, permasalahan itu tetap menyakitkan. Tetap aja ada yang bisa mengambil nilai tambah dari sisi lain. Ada yang merugi di satu sisi, justru menjadi lahan yang menguntungkan bagi pihak lain walaupun mereka dari “spesies” yang sama.