I used to play piano (was) and become an aging hobby i missed, that’s how i love these kind a tune, the song and what’s classical. I knew these back in the 90s while still in course at BM Club in the camp at Duri, and heard these again back in college.
Ooo, i stumble with these TV host Myleene Klass in “Screening Room” program, which i found later she’s a pianist (had her own album of classical tunes). So here it is, just want to tag some of the tune.
April 19, 2008 at 12:27 am · Filed under Economy, Thought
This writing are meant as a supplement to my previous info about pricing in reference basket (ORB), and also my other related economy tagged articles. The first quarter (Q1) of 2008 for me seem blunt in any aspect, especially on economy as in the surface it seem affect fewer than predicted with Indonesia progress.
Seperti yang kita tahu semua, kita selalu bertanya dimana nilai tambah bagi ekonomi negara dengan menjamurnya perolehan pendapatan perusahaan baik itu swasta maupun BUMN, yang diselingi dengan peningkatan perolehan gaji board of director perusahaan. Bahkan disaat harga crude yang tinggi saat ini, perusahaan eksplorasi tampak enggan (baik dengan alasan proses, waktu, batasan dan aturan pemerintah) meningkatkan kapasitas produksi, toh dengan kapasitas yang ada sekarang mereka sudah memiliki pendapatan “plus”. Selain stok yang “memang” mencukupi, jangan heran bahkan OPEC mengesampingkan ide peningkatan produksi.
Di AS biasanya mereka menyebut orang2 ini dengan sebutan “fat cats” yang terus mendulang perolehan pendapatan signifikan, sejak tahun 90an “fat cats” ini menyumbang banyak bagi ekonomi AS, namun untuk beberapa tahun terakhir mereka yg “wealthy” cenderung membawa ekonomi AS dan perusahaan jatuh bangun, ambil contoh krisis kredit mortgage di AS yang menyeret Bear Stern kolaps, dan tertolong oleh penawaran JP Morgan untuk $2 per lembar saham mereka, yang kini telah kembali naik sekitar $30 per lembar. Apakah bersikap transparan seperti direksi Aflac dengan “Say on Pay” cukup memberi aura positif? Bisa jadi.
Ya begitulah, 2 contoh diatas menunjukkan bahwa terkadang selurus apa pun hidup, permasalahan itu tetap menyakitkan. Tetap aja ada yang bisa mengambil nilai tambah dari sisi lain. Ada yang merugi di satu sisi, justru menjadi lahan yang menguntungkan bagi pihak lain walaupun mereka dari “spesies” yang sama.
Iseng coba pasang sample 1.8MB ini ke folder ../demo di server q dgn interface player sendiri (langsung, tanpa 3rd party server i.e: youtube, daily, imeem). Dan ternyata bisa, bela2in ads nya Masami. Hmm, about the ads itself; i had try several (r) Calpisproduct, its rarely to find it here in Jakarta but i can easily buy it in store in my hometown Pekanbaru (Riau).
excerpt: ads are copyrighted, owned legally by Calpis Co. Ltd. (Japan)
related: Clip 2
April 16, 2008 at 10:40 pm · Filed under Economy, Media
Ooo, so its like that. Got these when i stumble in Google for a keyword Minas, found few blog and some related description. In which it describe, what price settlement are based on for OPEC member. It is referred as references basket (ORB), and for Indonesia the price are based on Minas (Indonesia) crude.
So, in the term of meaning ORB is weighted average of crude price of each member production. The price itself fluctuate, like last Feb 28th Minas crude price are higher than ORB (Minas at US$98.85/barrel and ORB at US$94.99/barrel).
These are meant as intermezzo, just another info i would like to share here.
April 15, 2008 at 3:42 pm · Filed under Economy, Thought
Ok, we all know that most of the basic consumption meal price hike in recent month. Last month, our “humble” President SBY himself had ask FAO to help tackle scarcity and control the price of the rice in global market. And today i read an article, said the government officially open export license on rice product, hell no !!
Ok, katakanlah pemerintah menjanjikan stok beras dalam negeri aman, tapi jangan sampai rakyat kelaparan, antre beli beras gara-gara pemerintah lagaknya seperti lagi swasembada beras. Ingat ada 200juta lebih rakyat yang bergantung pada komoditas ini.
Secara historikal negara ini setelah gagal mempertahankan swasembada beras sejak tahun 80an itu, telah menjadi importir untuk komoditas ini, umumnya di impor dari negara se ASEAN juga seperti dari Vietnam. Kemarin juga sempat lihat di CNBC bahkan India dan Vietnam sendiri sudah menstop kebijakan ekspor pangan mereka, mengingat harga di pasaran yang tinggi saat ini, dan untuk menjaga kestabilan stok pangan di negara mereka.
Jadi katakanlah tinggal Thailand yang masih berpikir untuk menutup keran ekspor beras mereka atau tidak. Di Thailand sendiri bahkan petani melengkapi dirinya dengan senjata sejenis senapan laras panjang yang mereka gunakan sebagai langkah preventif dari adanya tengkulak dan bandar yang mencuri hasil panen padi mereka untuk dijual ke pasar gelap dengan harga tinggi.
Fuih finally .. found the movie, after seeking it for the last 3 month. An adapted of true story of US congressman; Char** WIl**. His role in aide the mujahidin in Afghanistan in the 80’s to scare-off Soviet occupation in the country which has cause large flees of refugees to Pakistan border.
Judul filmnya Charlie WilsonWar, yang sudah q cari sejak akhir 2007 tapi gak nemu2. Tadi nemunya yang versi kumplit tanpa “hard” sensor, yang kalo tayang di XXI atau di Blitz pasti banyak klip film yang kena sensor, karena beberapa konten film ini vulgar dan pasti bukan konsumsi anak2. Ok, berikut review q ttg film ini. Kita sepakat perang dan senjata tidak bisa menyelesaikan masalah, hanya di permukaan saja yang kelihatan bagus.
Seperti pesan di akhir film, benar dunia itu evolve, berputar, cyclical seperti bola dengan pantulan nya. Besar tidaknya pantulan tergantung dari berapa besar usaha (ataupun udara) yang di salurkan ke “bola” tersebut. Hasilnya bisa baik, bisa juga buruk. Dan itulah yang ditunjukkan film ini, karena masalahnya belum selesai hingga kini. Mereka yang dilatih untuk melawan komunisme saat itu kini berbalik menyerang negara yang “membantu” dulu (negara kapitalis dengan hegemoni ekonomi nya). Yang pasti film ini bercerita sebagian kisah nyata, yang hingga kini efek berantai nya belum juga selesai. Worth watched.
Lagu ini masih tetep enak didenger, dari jaman kuliah ampe sekarang. The song, bossa tunes and the great “Ca* Job*” (musician) name behind the song itself. Insensatez in a english term means insensitive, which i describe like a lack of care, perspective and understanding over person or problems encountered.