real thing (2) ..

.. cont’d (1)

Melewati perempatan coca-cola, rintik hujan mulai jatuh dan hari sedikit lembab pertanda hujan akan turun juga. Seorang anak kecil sekitar umur 6 tahun beringsut naik ke bis dan mulai membagikan amplop. IIni bukan lah pemandangan baru bagi q, banyak keluarga miskin dan yang kesusahan menyuruh anak2 mereka mengemis di pertigaan maupun perempatan jalan untuk sekedar menyebar amplop, jd pengamen, menyanyi seadanya, bahkan terkadang mereka membawa adik bayi dalam gendongan untuk sekedar mengadu nasib. Baik itu dengan ucapan maupun rintihan, yang terkadang mengiris hati melihatnya.

Dititipkannya sebuah amplop kosong dan terdapat tulisan dibelakang yang berisi pesan yang umum qt lihat. Mungkin kali ini berbeda pesan ini nadanya perkataan yang bukan dibuat oleh anak2 ini , tapi oleh orangtua mereka, petikannya:

” .. bantu lah saya untuk membeli kebutuhan sehari-hari dan membeli susu untuk anak saya yang masih kecil, .. ”

Kapan ini akan berakhir? 8 tahun negeri ini berganti-ganti pemimpin. perubahan sangat sedikit sekali, bukannya ingin mengeluh tidak ada sama sekali perubahan. yang pasti ada yang salah dengan birokrat di negara ini, dari sekian banyak uang yang dihamburkan, dari sekian target pajak yang diraih, dari sekian perolehan yang diburu DISPENDA, jarang terdengar bantuan maupun pengarahan yang riil atas nasib orang-orang tidak mampu ini.

Sampai kapan kita akan melihat perusahaan asing (terutama) maupun lokal “TP” tebar pesona dengan aktifitas CSR mereka, dan mencibir kemampuan negara ini untuk membantu rakyat nya sendiri.

Dibagian akhir menjelang lampu kembali merah dalam 30 detik (sesuai timer di lampu merah) anak itu beringsut turun dari bis sambil menilik tiap amplop adakah mereka yang menyumbangkan uangnya. Seraya anak itu turun q menatapnya, dan beliau menatap balik bingung maksud tatapan q.

bUzz: gak jauh beda dgn Dian, bagi q jujur ini menjadi dilematis. ingin membantu tapi ini mementahkan kembali keinginan membantu yang sebenernya jadi tanggung jawab orangtua anak2 ini. dimana mereka, saat anak2 ini kehujanan, panas2an, kaki “barefoot” tanpa alas dan terkena panas matahari ?! bagaimana pemerintah menutup mata melihat ini ?!